Skip to main content

Laila dan Majnun

Telah sampai cherita bahwa pada suatu hari Sultan Mahmud Ghaznawi menitahkan pesuruh2nya supaya membawa Laila menghadapnya agar dapat ditanyai peri kisah kekasihnya Majnun.

Apabila tiba Laila dihadapannya Baginda bertanya: "Wahai Laila, kau yang kechantikanmu mashhur seluruh alam; yang kasih sayangmu menjadi sumber segala puisi!—aku ingin menatap wajah Majnun, ingin tahu sifat rupa yang kau chintai dengan teguh dan jujur itu."

Maka Laila menjawab seraya menangis mengenangkan Majnun bahwa kekasihnya telah hilang tiada yang tahu kemana.

Mendengar ini Baginda menitahkan kepada pesuruh untuk menchari Majnun hingga dapat supaya dibawa dihadapannya. Pesuruh menchari dikota, dikampung, didusun hingga akhirnya diperpinggiran batasan negeri dan luasan padang pasir. Disitu beliau mendapat khabar bahwa ada seorang yang berdiam sebatang-kara dipadang pasir merayau merana senantiasa menzikirkan nama Laila bagai orang sudah gila.

Orang itu dibawa kehadapan Baginda Sultan yang, sambil terkejut heran memandang rupa menyangkal sangkaan berkata: "Inilah Majnun? Inilah rupa yang kau chintai; yang hitam legam kurus kering ini, yang kotor hodoh—wahai Laila, inikah Majnunmu!"

"Tuanku," sahut Laila, "Tuanku harus memandang dia dengan pandangan mataku."

Sebagaimana Laila chintakan Majnun, teguh dan jujur laksana Bintang Utara; menyorotkan chinta yang benar yang dapat menembusi chachat pandangan zahir menuju tepat pada hakikat batin, begitulah para sarjana masharakat Islam harus memandang sejarahnya meskipun ditampakkan sejarah itu se-olah2 buruk belaka.

-----
Petikan Sharahan Pengukuhan (Islam Dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu) pelantikan pada jawatan Professor Bahasa dan Kesusasteraan Melayu di Universiti Kebangsaan Malaysia (1972) oleh Prof Syed Muhammad Naquib Al-Attas

Comments

Popular posts from this blog

Ketaksamarataan dan Kitaran Kemiskinan

Menelusuri lorong-lorong toko buku Palasari di Bandung, rata-rata kasir di kaunter kira uang adalah pria berusia lingkungan belasan tahun. Sepertinya di kota Jakarta, saya mengambil peluang itu berbual dengan mereka dan membuat teman dengan orang tempatan.

Tujuannya tidak lain, pertama untuk dijadikan sumber rujukan dan kemudahan di kawasan tersebut—selaku orang tempatan, dan seterusnya mendengar kisah mereka.

Dari Jakarta, ke Bogor, dan kemudiannya singgah di Bandung, dan lantas selepas itu ke Jogjakarta: kisah anak-anak pria berusia belasan tahun ini hampir serupa. Mereka mulai mencari uang menyara kehidupan dan keluarga seawal usia tamatnya Sekolah Dasar (SD).

Ke toko menjual batik di tengah hiruk-pikuk Jalan Malioboro, sehinggalah ke ceruk daerah Ciwidey, wajah-wajah polos pria berusia belasan tahun bekerja mencari uang menghiasi segenap ruang—saat anak-anak yang seusia dengan mereka lainnya sibuk memikul buku ke sekolah.

Keadaan begini sudah menjadi sangat biasa, bukan hal yang p…

Homosexuals and The Idea of Abnormality

Once ago, my friend and me have a little chat about stuff—if not mistaken, we gossiping a hot Math teacher from Italy, and from where it began, we start talking about gay and LGBT.

The pinnacle of it was when my friend proudly declares the gay people is abnormal.

I just sit still, silent and stunned.

I should start somewhere. Here it is, for myself, to be abnormal is to be true to oneself. And it is a kind of freedom that I longingly seek and understand, that is to be true to yourself, to who you are.

It is a freedom to be able to against the flow. It is a freedom when we do not favor the external to validate ourselves. To do this, first, we have to be abnormal, in the eye of the many.

Anyway, I don’t mean to philosophize anything here. It is just a version of abnormality that I always think and perceived before, and luckily (no pun intended), that day comes when my friend bluntly declare homosexuality is abnormal.

And, I have to revisit my thought on abnormality.

I am OK with her…

Tentang Si Genius Adi Putra

Ini coretan ringkas awal Mac 2015, beberapa hari lagi sebelum kita akan tiba pada hari yang menandakan setahun hilangnya MH370 tidak ketemu. Coretan ini tentang Adi Putra, si genius cilik yang dulunya begitu popular, semua media mahu mendapatkan cerita tentangnya.

Kini, di mana Adi Putra? Kita bertanyakan soalan begitu kerana kerisauan kita adalah kisah Adi Putra ini akan menjadi senasib generasi genius Malaysia lain-lainnya. Tentulah kita berharap ianya tidak berlaku demikian.

Hari ini mStar kembali dengan cerita tentang si Adi Putra ini. Saya antara peminat beliau. Saya kepingin mahu bertemu dan berbual dengan Adi Putra. Saya mahu berkawan dengan beliau – dan belajar dengannya. Tapi, Adi di mana?

Jika membuat carian di Google, yang berderet keluar di halaman utama adalah kisah tentang Adi Putra, si pelakon layar teater. Untuk apa ambil tahu tentang si pelakon itu. Bukanlah mendapat apa-apa manfaat pun pada perkembangan akal dan ilmu pengetahuan. Entahlah.

Cerita mStar membuka episo…